KONSEP SUNNAH-BID‘AH DALAM MUHAMMADIYAH DAN
IMPLIKASINYA DALAM MEMAHAMI AGAMA DAN BUDAYA
Syamsul Hidayat
Universitas Muhammadiyah Surakarta
‫الخلصة‬
‫الجمعيية المحمديية ككونهيا حركية التصيفية التأصييلية، تعيرف عليى أنهيا‬
،‫حركة تريد إحياء العمل بتعاليم السلم الذي ينبع من القرآن والسنة‬
‫وفهم وعمل تعاليم السلم الذي ل يستند إلى القرآن والسنة يشمل‬
‫نواحي العقيدة والعبادة والخلق والمعاملة، وهذه النحرافات تصطلح‬
.‫في المحمدية بأنها : تخيل، وبدعة وخرفات‬
‫وتعرف المحمدية كذلك على أنها حركة التجديد، بل تذكر على‬
‫أنهيا رائدة حركية التجدييد فيي إندونيسييا لجيل ميا تقيوم بيه فيي مجيال‬
‫التعليييم، والجتميياع، والثقافيية، ورعاييية رفاهييية الميية وغيرهييا ميين‬
‫العميال. كفياح المحمديية فيي إحيياء التجدييد مقيترن ميع مبيدأ تصيفية‬
‫وتأصييل العميل بالسيلم. وهيذا يتطليب مين المحمديية صيياغة النظريية‬
‫عين السينة والبدعية، خاصية ميا يتعليق بتطيورات المجتميع، وتغيير قييم‬
.‫المجتمع، وتعدد الثقافة المعقدة‬
‫وهذه الدراسة تركز تتبع منهجية فكرة المحمدية عن مواصفات السنة‬
.‫والبدعية فيي فهيم تعياليم السيلم وآثيار ذليك فيي فهيم اليدين والثقافية‬
‫وتسلك الدراسة السلوب المزدوج بين تتبع الفكر الرسمي من خلل‬
‫القيرارات الرسيمية للجمعيية وتتبيع آراء قيادة الجمعيية حيتى يتكيون‬
‫ي‬
‫ي ي‬
‫ي‬
‫ي‬
‫ي‬
‫ي‬
‫ي‬
.‫تكامل النظرية الحية‬
Abstraks
Sebagai gerakan pemurnian, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan
yang ingin menghidupkan pengamalan ajaran Islam yang bersumber Al-
Quran dan al-Sunnah, serta membersihkan dan memurnikan pengamalan
ajaran Islam dari hal-hal yang tidak memiliki landasan dari al-Quran dan al-
Sunnah meliputi berbagai aspek, baik aspek aqidah, ibadah, akhlak
maupun muamalah, yang dalam Muhammadiyah, sering disebut dengan
TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat).
Di samping itu, Muhammadiyah juga dikenal sebagai gerakan
pembaharuan, bahkan disebut-sebut sebagai perintis pembaharuan Islam
di Indonesia, karena usaha-usahanya dalam bidang pendidikan, sosial
budaya, pembinaan kesejahteraan sosial umat dan seterusnya. Usaha
Muhammadiyah untuk membangkitkan pembaharuan di kalangan umat
Islam, dilakukan dengan beriringan dengan prinsip pemurnian pengamalan
ajaran Islam. Hal ini menuntut Muhammadiyah untuk merumuskan
pemahaman konseptual mengenai Sunnah dan Bid’ah, terutama dalam
konteksnya dengan perkembangan masyarakat, pergeseran nilai
125
PROFETIKA, Jurnal Studi Islam, Vol 8 No. 2, Juli –Desember 2006: 125-136
kemasyarakatan dan pluralitas budaya yang semakin kompleks.
Kajian ini akan memusatkan pada penelusuran konseptual pemikiran
Muhammadiyah tentang kriteria Sunnah dan Bid’ah dalam memahamai
ajaran Islam dan implikasinya terhadap memahami agama dan budaya.
Kajian ini menggunakan pendekatan terpadu antara penelusuran
pemikiran formal melalui keputusan-keputusan resmi organisasi dan
penelusuran berbagai pendapat para tokoh Muhammadiyah, sehingga
mengumpulkan bunga rampai pemikiran secara integratif dan dinamis.
Kata kunci:
dinamisasi
12
6
sunnah,
bid’ah,
tajdid,
pluralitas
budaya,
purifikasi,
Konsep Sunnah-Bidah dalam Muhammadiyah (Syamsul Hidayat)
Pendahuluan
Sejak awal Muhammadiyah
dikenal
sebagai
gerakan
pemurnian
dan
pembaharuan
Islam di Indonesia, yang memiliki
pengaruh cukup besar, bahkan
menjadi salah satu mainstrem
utama
pemikiran
Islam
di
Indonesia, di samping Nahdlatul
Ulama. Begitu besarnya pengaruh
kedua organisasi massa Islam
terbesar di Indonesia ini, sehingga
segala permasalahan umat Islam
di
Indonesia
senantiasa
memperhitungkan pendapat kedua
ormas tersebut.
Sebagai gerakan pemurnian,
Muhammadiyah dikenal sebagai
gerakan yang ingin menghidupkan
pengamalan ajaran Islam yang
bersumber
Al-Quran
dan
al-
Sunnah, serta membersihkan dan
memurnikan pengamalan ajaran
Islam dari hal-hal yang tidak
memiliki landasan dari al-Quran
dan al-Sunnah. Pemahaman dan
pengamalan ajaran Islam yang
tidak memiliki landasan dari Al-
Quran dan al-Sunnah, meliputi
berbagai aspek, baik aspek aqidah,
ibadah, akhlak maupun muamalah.
Dalam
Muhammadiyah
penyimpangan
dalam
bidang
keagamaan di atas sering disebut
dengan TBC (Takhayul, Bid’ah dan
Churafat).
Di
samping
itu,
Muhammadiyah
juga
dikenal
sebagai gerakan pembaharuan,
bahkan
disebut-sebut
sebagai
perintis pembaharuan Islam di
Indonesia, karena usaha-usahanya
dalam bidang pendidikan, sosial
budaya, pembinaan kesejahteraan
sosial umat dan seterusnya. Usaha
Muhammadiyah
untuk
membangkitkan pembaharuan di
kalangan umat Islam, dilakukan
dengan beriringan dengan prinsip
pemurnian
pengamalan
ajaran
Islam.
Hal
ini
menuntut
Muhammadiyah
untuk
merumuskan
pemahaman
konseptual mengenai Sunnah dan
Bid’ah,
terutama
dalam
konteksnya dengan perkembangan
masyarakat,
pergeseran
nilai
kemasyarakatan
dan pluralitas
budaya yang semakin kompleks.
Kajian ini akan memusatkan
pada
penelusuran
konseptual
pemikiran Muhammadiyah tentang
kriteria Sunnah dan Bid’ah dalam
memahamai ajaran Islam dan
implikasinya terhadap memahami
agama dan budaya. Kajian ini
menggunakan pendekatan terpadu
antara
penelusuran
pemikiran
formal
melalui
keputusan-
keputusan resmi organisasi dan
penelusuran berbagai pendapat
para
tokoh
Muhammadiyah,
sehingga mengumpulkan bunga
rampai pemikiran secara integratif
dan dinamis.
Sunnah-Bid‘ah
dalam
Muhammadiyah
Kajian mengenai
hukum-
hukum Bid’ah dan Khurafat dalam
Muhammadiyah
yang
cukup
lengkap dilakukan oleh Djarnawi
Hadikusuma, anggota Pimpinan
Pusat
Muhammadiyah
hingga
periode tahun 1990.1 Buku kecil
tetapi menjadi pegangan pokok
1Djarnawi
adalah
seorang
tokoh
pemimpin dan mubaligh Muhammadiyah
yang sangat produktif dengan berbagai
karya tulis, mulai pelajaran Bahasa Inggris,
Kristologi, Kemuhammadiyahan, Aqidah,
Fiqh serta sejarah para tokoh dan pemimpin
Muhammadiyah. Di tingkat pusat ia pernah
aktif menjadi Sekretaris PP dan Wakil Ketua
PP Muhammadiyah. Djarnawi meletakkan
jabatan (dalam arti tidak bersedia dipilih
kembali), karena usia senja pada Muktamar
Muhammadiyah ke 42, 1990 di Yogyakarta.
12
5
PROFETIKA, Jurnal Studi Islam, Vol 8 No. 2, Juli –Desember 2006: 125-136
pada mubaligh dan pemimpin
Muhammadiyah
ini
bertajuk
“Ahlussunnah wa al-Jamaah, Bid’ah
dan Khurafat”, yang diterbitkan
oleh
Pimpinan
Pusat
Muhammadiyah.
Dalam buku ini dibahas
secara
sistematis
pengertian-
pengertian tentang ahlussunnah
wal jamaah, ijtihad, ittiba, taqlid,
bid’ah, dan khurafat. Pengkajian
relasi agama dan budaya dalam
perspektif Islam, wa bil-khusus
menurut paham Muhammadiyah,
sangat
berkaitan
dengan
pembahasan dengan pengertian-
pengertian di atas.
Dalam bagian ini pembahasan
difokuskan pada konsep Sunnah
dan
Bid’ah
(yang
termasuk
didalamnya masalah khurafat).
a. Konsep Sunnah
Sunnah
secara
bahasa
bermakna
sÊrah
(sejarah
kehidupan), ÏarÊqah (jalan hidup),
syarʑah (jalan lurus atau hokum-
hukum).2
Dalam konteks studi
ilmu-ilmu
keislaman,
dapat
dipahami menurut sudut pandang
sebagai berikut:
Kalangan
MuÍaddithËn
berpendapat,
bahwa
sunnah
adalah
segala
peninggalan
Rasulullah SAW berupa perkataan,
perbuatan, ketetapan, sifat-sifat
akhlak,
dan
sifat-sifat
jasmaniahnya
atau
sejarah
hidupnya, baik sebelum maupun
sesudah kerasulannya.
3
.‫ذلك قبل البعثة أو بعدها‬
Sedangkan menurut Ulama
Ushul Fiqh, mengatakan bahwa
sunnah
adalah
setiap
yang
bersumber dari Nabi SAW selain Al-
Quran
berupa
perkataan,
perbuatan, dan ketetapan yang
layak menjadi dalil bagi hokum
syar‘i.
‫السيينة فييى اصييطلح علميياء أصييول‬
‫الفقه هى كل ما صدر عن النبي صلى‬
‫الليه علييه وسيلم غيير القيران الكرييم‬
‫مين قيول أو فعيل أو تقريير مميا يصيلح‬
4
.‫أن يكون دليل لحكم شرعي‬
Adapun
menurut
Fuqaha,
sunnah adalah segala ketetapan
Nabi SAW yang tidak termasuk
dalam bab farÌu dan tidak pula
wajib.
‫السنة فى اصطلح الفقهاء هى كل ما‬
‫ثبيت عين النيبي صيلى الليه علييه وسيلم‬
‫مييا لييم يكيين ميين بيياب الفييرض و ل‬
5
.‫الواجب‬
‫السنة فى اصطلح المحدثين كل ما‬ Dalam konteks ini Sunnah
‫أثر عن الرسول صلى الله عليه وسلم‬ lebih sejalan dengan pemahaman
‫من قول أو فعل أو تقرير أوصفة‬ ulama Ushul dan Fuqaha, sehingga
‫خلُقية أو خلْقية أو سيرة سواء كان‬ Sunnah
Nabi
lebih
banyak
bersinggungan dengan masalah
keagamaan
(Ñubudiyyah),
meskipun ada beberapa wilayah
kehidupan mu’amalah dan akhlak,
yang menjadi perhatian sunnah,
seperti masalah ketentuan aurat
dalam
berpakaian,
etika
pergaulan,
aturan-aturan
pernikahan dan sebagainya.
Salah seorang tokoh ulama
Muhammadiyah, TM, Hasby Ash
2 Luis al-Ma’luf. Al-Munjid fi al-Lughah 3 Muhamamd Ajjaj Khatib. Ushul al-
wa al-A’lam. (Beirut: Dar al-Mashriq, 1986), Hadith ÑUlumuh wa Mustalahuh, (Dimashq:
hlm. 353. Dar al-Fikr, 1975, hlm. 19
4 Ibid.
5Ibid.
12
6
Konsep Sunnah-Bidah dalam Muhammadiyah (Syamsul Hidayat)
Shiddiqy mendefinisikan amalan
sunnah adalah “jalan yang dijalani
dalam hal agama, karena telah
biasa dijalani oleh Rasulullah SAW
dan
generasi
salafus
shalih,
sesudahnya.”6
Pemahaman tersebut sejalan
dengan
pengertian
yang
disampaikan oleh Imam Syaukani
dalam
Irsyad
al-Fuhul,
sebagaimana dikutip oleh Hasbi
Ash Shiddieqy, yang berbunyi: [
‫ ,]الطريقيية ولييو غييير مرضييية‬yakni
“Jalan yang tetap kita jalani (telah
menjadi tradisi untuk kita jalani),
baik diridhai
(disukai) maupun
tidak”
Dalam hal Ñubudiyah atau
yang
bersifat
taÑabbudi,
Muhammadiyah
berpendapat
bahwa pemeliharaan orisinalitas
dan kontinuitas ajaran menjadi
prinsip yang harus dipegangi oleh
umat Islam. Misalnya sabda Rasul
tentang tata cara salat, mansak
(manasik) haji dan sebagainya.
Sedang
sunnah
dalam
Muamalah dan Akhlak, ruang akal
pikiran mendapatkan ruang yang
cukup, sehingga memungkinkan
terjadi perbedaan dan perubahan.
Dalam pandangan Muhammadiyah
wilayah ini, analisis berdasarkan
Ñillah al-Íukm (metode taÑlily dan
qiyas) sangat diperlukan. Bahkan
tidak hanya berlaku pada Sunnah,
tetapi dalam beberapa hal juga
berlaku pada al-Quran. Contohnya
sunnah
yang
melarang
menggambar
makhluk
hidup
(bernyawa).
Dalam
hal
ini,
Muhammadiyah
memandang
gambar
tersebut
perlu
dikaji
motivasi,
materi
dan
tujuan
6 Teungku Muhammad Hasbi Ash
Shiddieqy.
Kriteria
Sunnah
Bid’ah.
(Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2005). Hlm.
30
pembuatan
gambar
tersebut.
Sehingga hukumnya tergantung
aspek-aspek tersebut. Artinya bisa
haram, bisa juga mubah bahkan
bisa menjadi amal shalih, yang
setidak-tidaknya
hukumnya
sunnah. Di sini teori Ñillah dan
maÎlahah diterapkan.
Dengan
demikian
dalam
konteks ubudiyah, yang dimaksud
sunnah adalah sesuatu yang
masyru’
(disyariatkan,
diperintahkan), sedangkan dalam
konteks mu’amalah dan akhlak,
yang dimaksud sunnah adalah
segala yang sejalan dengan prinsip
dan
nilai-nilai
kebaikan
dan
maslahah
yang
semangatnya
diajarkan oleh Al-Quran dan al-
Sunnah. Pandangan ini sejalan
dengan
kandungan
Hadits
Rasulullah SAW sebagai berikut:
‫ َ ُي‬
‫ع َين أَب ِيي هُري ْيرةَ أ َين ر سول الل ّيهِ صلّى‬
‫َي‬

‫الل ّه ع َلَيْهِ وَسل ّم قَال من دَع َا إِل‬
‫ى هُدًى‬

َ

‫كَان ل َه من ال َجرِ مث ْل أ ُجورِ من تَبِع َه ل‬
ُ ِ ْ ْ ْ ِ ُ

‫يَنْقُص ذ َل ِك من أ ُجورِه ِم شيْئًا وَمن دَع َا‬
ْ ِ

‫ ِ ْي ْي‬
‫ض‬

‫إِل َيى َيللَةٍ ك َيان ع َلَي ْيه م ن ا لِث ْمِ مث ْيل‬

‫آث َام م ن تَبِع َه ل يَنْق ُص ذ َل ِك م ن آث َامهِم‬

ِ
َ
‫َي‬
‫شيْئًا )رواه أبيو داود فيى سيننه الجيرء‬
(‫الثالث عشر‬
“Dari Abu Hurairah radiyallahu
‘anhu,
bahwa Rasulullah SAW
bersabda; “Barangsiapa mengajak
(berdakwah)
kepada
petunjuk,
maka baginya adalah pahala
seperti pahalanya orang yang
mengikuti petunjuk itu, tanpa
mengurangi
sedikitpun
pahala
mereka, dan barangsiapa yang
mengajak kepada kesesatan, maka
ia
akan
mendapatkan
dosa
sebagaimana dosa orang yang
mengikutinya, tanpa mengurangi
dosa mereka sedikitpun” (Riwayat
12
7
PROFETIKA, Jurnal Studi Islam, Vol 8 No. 2, Juli –Desember 2006: 125-136
Abu Daud),7
‫ع َين اب ْين جرِييرِ ب ْين عَب ْيدِ الل ّيهِ ع َين أَبِيهي‬

‫ َ ُي‬
ِ‫قَيال قَيال ر سول الل ّيهِ صلّى الل ّيه ع َلَي ْيه‬
‫َي‬
‫وَيسل ّم م ن سن سن ّة خي ْيرٍ فَياتّبِعَ ع َلَيْهَيا‬
َ ‫ َ َ ْي َي ّ ُي‬
‫فَل َيه أ َجرهي وَمث ْيل أ ُيجور م ن اتّبَعَيه غَي ْير‬
‫ ْ ُ ُ ِ ُ ُ ِ َ ْي‬
‫ َي‬
‫منْقُو ٍي م ن أ ُيجورِه ِم شيْئًا وَم ن سن‬
‫ص ِ ْي‬
‫ ْي َي‬
‫سن ّة شر فَياتّبِعَ ع َلَيْهَيا ك َيان ع َل‬
‫ُي َ َي‬
‫ ي ْيهِ وِزرهي‬

‫وَمث ْل أَوْزارِ م ن اتّبَع َه غَي ْر منْقُو ص م ن‬
ُ

ِ

‫أَوْزارِه ِم شيْئًا‬
Dari Jabir bin Abdullah dari
ayahnya
berkata.
Bersabda
Rasululah
SAW:
“Barangsiapa
merintis tradisi yang baik dan
diikuti oleh orang lain, maka ia
mendapatkan pahala dan pahala
orang yang mengikuti kebaikannya
tanpa mengurangi pahala mereka
sedikitpun, dan barangsiapa yang
melakukan perbuatan buruk dan
diikuti oleh orang lain, maka ia
akan menanggung dosa dan dosa
orang yang mengikutinya, tanpa
mengurangi dosa orang yang
mengikutinya
sedikitpun.”
(Riwayat Tirmidzi).8
b. Konsep Bid’ah-Khurafat.
Berkaitan dengan konsep
sunnah di atas adalah konsep
bid’ah dan khurafat. Bid’ah dan
khurafat
erat
hubungannya
dengan taqlid, bahkan dapat
dikatakan
bahwa
kedua
hal
tersebut
bersumber
pada
kebiasaan taqlid, yakni mengikuti
pendapat seseorang dalam agama
(khususnya aqidah-ibadah) tanpa
mengetahui dasar-dasar dalilnya.
Djarnawi mengatakan, taqlid ibarat
tanah yang amat subur untuk
tumbuh
dan
berkembangnya
7Sunan Abu Dawud, Juz. 13, hlm. 278
(Program Maktabah Shamilah)
8 Sunan At-Tirmidzi, Juz 9, hlm. 278
(Program Maktabah Shamilah)
12
8
bid’ah dan khurafat. Sedangkan
jiwa yang hidup dan sadar, yang
menolak
taqlid,
dan
terus
mendalami sumber dan dasar-
dasar agama secara kokoh akan
selalu
menolak
bid’ah
dan
khurafat, karena paham Quran dan
Sunnah
dan
paham
pula
penyimpangan-penyimpangannya,
baik
dalam
aqidah,
ibadah,
muamalah, maupun akhlak.9
Jiwa yang hidup, sadar dan
cerdas akan ilmu agama (ulum al-
din) dan paham akan fungsi agama
bagi
dirinya,
niscaya
hanya
menghendaki kemurnian iman dan
ibadah hanya kepada Allah secara
murni,
tidak
dikotori
oleh
kepercayaan
dan
ritual-ibadah
buatan manusia sekecil apapun. Ia
hanya menghendaki hakekat iman
dan
cara
ibadah
yang
asli
diperintahkan
Allah
dan
dicontohkan
oleh
Rasul-Nya,
mengenai caranya, bacaannya,
waktunya, jumlahnya, asli dan
murni tidak dikurangi dan tidak
pula ditambahi oleh kehendak
manusia. Tambahan dalam hal
ibadah disebut bid‘ah, sedangkan
tambahan
dalam
kepercayaan
disebut
bid‘ah
i‘tiqad
atau
khurafat. 10
Munculnya
bid’ah
dan
khurafat memang sangat beragam
sebabnya, di antaranya sebab
kebodohan dalam ilmu agama,
perasaan kurang puas terhadap
syariat agama, kepentingan politik
dan sebagainya.
Bid’ah secara lughawi berasal
dari kata bada‘a
(‫ ,)بييدع‬yakni
membuat sesuatu yang baru yang
belum ada contoh sebelumnya.
Adapun
secara
terminologis,
9 Djarnawi Hadikusuma. Ahlussunnah
wal Jamaah, Bidah dan Khurafat. Hlm. 18
10 Ibid.
Konsep Sunnah-Bidah dalam Muhammadiyah (Syamsul Hidayat)
adalah:
‫البدعيية طريقيية فييى الييدين مخترعيية‬
‫تضيياهى الشييرعية يقصييد بالسييلوك‬
‫عليهيا المبالغية فيى التعبيد لليه سيبحانه‬
‫وتعالى‬
“Bid’ah adalah suatu cara
baru dalam agama yang diada-
dakan untuk menandingi syari’ah,
yang
dimaksudkan
dengan
mengerjakannya untuk membuat
nilai lebih dalam ibadah kepada
Allah”.11
Definisi di atas menurut
pendapat yang tidak memasukkan
adat-istiadat ke dalam makna
bid’ah,
hanya
mengkhususkan
kepada masalah ibadah. Adapun
pendapat yang memasukkan adat
kebiasaan dan budaya local ke
dalam makna bid‘ah mengatakan:
‫البدعيية طريقيية فييى الييدين مخترعيية‬
‫تضيياهى الشييرعية يقصييد بالسييلوك‬
“‫عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية‬
“bid’ah adalah “cara baru
dalam agama, yang menandingi
syariat, di mana tujuan dibuatnya
sama seperti tujuan dibuatnya
syari‘ah tersebut”.12
Imam Syatibi menjelaskan
bahwa kata “cara” (‫)الطريقية‬pada
definisi tersebut perlu dibatasi,
yaitu sesuatu jalan yang telah
ditetapkan untuk dijalani, yang
pelakunya menyandarkan perkara
tersebut kepada agama. Oleh
karena itu, kalau cara baru
tersebut dalam masalah keduniaan
tidaklah termasuk bid’ah, seperti
umpamanya membuat industri,
memperbaharui
system
kenegaraan,
penemuan
baru
dalam bidang teknologi, pertanian
11 Abu Ishaq Ibrahim bin Musa al-
Shatibi. Al-I’tisham. (Riyad: Dar a-Hijrah,
2001), hlm. 7
12 Ibid.
dan sebagainya, meskipun belum
ada contoh sebelumnya.13
Ketegasan
Muhammadiyah,
bahwa
sumber
ajaran
Islam
hanyalah al-Quran dan al-Sunnah
adalah kesadaran yang dibangun
oleh para perintis Muhammadiyah
untuk menegakkan Islam Murni
yang bebas dari daki-daki taqlid,
takhayul, bid’ah dan khurafat
sebagaimana dijelaskan di atas.
Hanya saja dalam keputusan-
keputusan
ulama
Tarjih
Muhammadiyah
menggunakan
istilah ghairu masyru’, untuk
memperhalus istilah bid’ah. Ini
dapat ditemukan dalam putusan
Tarjih tentang bid’ahnya Qunut
dalam shalat Subuh dan Shalat
Witir pada bulan Ramadhan pada
hari keenam belas ke atas.14
Guru
besar
Program
Pascasarjana
Universitas
Islam
Madinah bidang Ushuluddin dan
Dakwah, Ali bin Muhammad Nasir
al-Fiqhy, menyebutkan bahaya
bid’ah apabila tidak diberantas, di
antaranya:
(a)
membuat
pelakuknya untuk meninggalkan
hukum-hukum
agama.
(b)
menimbulkan
perpecahan
di
kalangan umat, (c) benih-benih
terjadinya kekafiran, (d) pelaku
bid’ah hanya mengikuti hawa
nafsunya sendiri.
Oleh karena itu Ali mengajak
umat
ini
untuk
memperkuat
komitmen dan memperluas ilmu
agama yang bersumber kepada Al-
Quran dan Al-Sunnah sebagaimana
dikembangkan oleh generasi awal
Islam, generasi al-salafu al-salih,
menghindari
ta’assub
yang
13 Ibid., hlm. 8
14 Lihat Keputusan Muktamar Tarjih
Muhammadiyah XXII, 1989 di Malang,
bidang ibadah khusus, kajian masalah
Qunut Witir, Shalat Id pada hari Jumat, dan
Azan Subuh.
12
9
PROFETIKA, Jurnal Studi Islam, Vol 8 No. 2, Juli –Desember 2006: 125-136
berlebihan. Namun, terbuka untuk
menerima koreksi demi tegaknya
risalah al-Quran dan al-Sunnah.15
2. Implikasi Konsep Sunnah-
Bid’ah dalam Agama dan
Budaya
Konsepsi tentang Sunnah dan
Bid’ah yang menjadi pemahaman
keagamaan dalam Muhammadiyah
di atas, mengandung implikasi
yang signifikan dalam melihat
agama dan budaya.
a. Implikasi Keagamaan
Dengan
adanya
konsep
Sunnah-Bid’ah
tersebut
telah
memberikan
implikasi
kepada
Muhammadiyah dalam melihat dan
mengimplementasikan
ajaran
agama Islam, sebagai berikut:
1). Agama (al-Din al-Islami)
adalah merupakan patokan
dan barometer kehidupan
manusia.
Ia
merupakan
sumber inspirasi, aspirasi
dan orientasi bagi gerak
dan
langkah
kehidupan
manusia.16
2). Agama
Islam
memiliki
cakupan yang sangat luas
meliputi
seluruh
aspek
kehidupan manusia, baik
dalam masalah keyakinan
(aqidah),
peribadatan,
moralitas
dan
seluruh
transaksi kehidupan.17
15 Ali bin Muhammad bin Nasir al-
Fiqhy. Al-Bid’ah Dawabituha wa Atharuha
al-Sayyi’ fi al-Ummah, (Madinah:Universitas
Islam Madinah, t.th.), hlm. 7-31
16 Muqaddimah AD Muhammadiyah
(Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2005)
hlm. 3-4, lihat juga KHM. Mansoer. Tafsir
Langkah
Muhammadiyah
1938-1940,
(Yogyakarta: PP Muhammadiyah Majelis
Tabligh, t.th). hlm. 7-44
17 “Matan Keyakinan dan Cita-cita
Hidup Muhammadiyah” dalam Hamdan
Hambali,
Ideologi
dan
Strategi
Muhammadiyah.
(Yogyakarta:
Suara
Muhammadiyah, 2006) hlm. 46-47
13
0
3). Pemahaman Islam harus
benar-benar bersumber dari
sumber pokoknya, yakni Al-
Quran dan Sunnah Rasul,
dengan menggunakan akal
pikiran yang sesuai dengan
jiwa ajaran Islam.
4). Pemahaman
dan
implementasi ajaran Islam
yang bersumber kepada
sumber pokoknya, Al-Quran
dan Sunnah Rasul, harus
mempertimbangkan
khazanah pemikiran Islam
yang dihasilkan oleh para
Ulama, baik salaf maupun
khalaf, sebagai mata rantai
keilmuan yang sistematis.
5). Pemahaman
dan
Implementasi ajaran Islam,
menjadi lebih bersih dari
pengaruh adat-istiadat dan
budaya lokal, terutama adat
dan budaya yang berbau
kepercayaan yang dapat
mengganggu
ketauhidan
umat
Islam.
Namun
pengembangan
dakwah
Islam tetap bersifat kultural,
baik
dengan
cara
demitologisasi
maupun
rasionalisasi
atau
pembersihan total terhadap
aspek-aspek
yang
tidak
dilakukan
demitologisasi
maupun
rasionalisasi
karena secara substantif
memang
berseberangan
dengan
aqidah
Islam,
sehingga
Muhammadiyah
tetap
diterima
oleh
Konsep Sunnah-Bidah dalam Muhammadiyah (Syamsul Hidayat)
masyarakatnya.18
6). Upaya kontekstualisasi dan
pembaharuan
dalam
memahami
dan
mengimplementasikan
ajaran Islam, tetap berpijak
pada manhaj dan qaidah
yang
jelas,
serta
menghindari
IfrÉÏ
(mengurangi agama) dan
TafrÊÏ (berlebih-lebihan).19
b. Implikasi Kebudayaan
Dengan
pandangan
dasar
mengenai konsep Sunnah-Bid’ah
dan
implikasinya
kepada
pemahaman dan implementasi
ajaran agama Islam sebagaimana
dikemukakan
di
atas,
meniscayakan
pemahaman
mengenai kebudayaan sebagai
berikut:
1) Kebudayaan
yang
merupakan
proses
aktualisasi dan hasil cipta,
rasa, karsa, karya manusia
harus
senantiasa
didasarkan
pada
pandangan
hidup
yang
18 Nurcholish Madjid menyatakan
bahwa adanya gerakan purifikasi di Saudi
Arabia
oleh
Gerakan
Wahabi,
telah
mengurangi
tradisi
meratap
dan
penyembahan terhadap roh leluhur serta
mengagung-agung kuburan leluhur. Begitu
juga
purifikasi
yang
dilakukan
oleh
Muhammadiyah di Indonesia, telah berjasa
besar dalam memberantas kemusyrikan
dalam bentuk pemujaan kepada makam
leluhur, dan penyembahan kepada tempat-
tempat yang dipandang angker. Tidak bisa
dibayangkan keadaan umat Islam tanpa
kelahiran gerakan purifikasi tersebut. Lihat.
Nurcholish Madjid. “Aqidah Islam yang Perlu
Dikembangkan sebagai Landasan Pemikiran
dan
Amal
Muhammaduyah,
dalam
Sudjarwanto et.el (ed.) Muhammadiyah dan
Tantangan Masa Depan. (Yogyakarta: Tiara
Wacana, 1990), hlm. 407-418
19Asymuni Abdurrahman. Memahami
Makna Tekstual, Kontekstual & Liberal.
(Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, t.th.),
hlm. 135, 143
2)
3)
4)
5)
bersumber
dari
ajaran
Islam. Dengan demikian
kebudayaan
harus
merupakan aktualisasi dan
manifestasi keberagamaan
seseorang.
Islam
mendorong
kreativitas manusia untuk
berkebudayaan,
tetapi
kreativitas yang terarah
dan terbimbing oleh pesan-
pesan suci agama Islam.
Dengan
penghargaan
terhadap
kreativitas
kebudayaan,
Muhammadiyah menerima
dan menghormati adanya
pluralitas
dan
keanekaragaman
budaya,
di
mana
satu
dengan
lainnya
harus
hidup
berdampingan dan saling
mengokohkan.
Adanya Pluralitas Budaya
tetap
membawa
Muhammadiyah
untuk
bertindak selektif dan kritis,
untuk memilih budaya yang
benar-benar makruf (yang
sejalan
dengan
prinsip
ajaran Islam dan sejalan
dengan martabat manusia)
untuk dikembangkan dan
disosialisasikan
kepada
masyarakat, dan memilih
budaya
yang
munkar
(bertentangan
dengan
Islam
dan
merusak
martabat manusia) untuk
ditinggalkan dan dicegah
berkembangnya.
Pluralitas Budaya, terlebih
dengan kekayaannya telah
mendorong Muhammadiyah
untuk lebih kreatif dan
inovatif
dalam
pengembangan
gerakan
dakwah
dan
strategi
13
1
PROFETIKA, Jurnal Studi Islam, Vol 8 No. 2, Juli –Desember 2006: 125-136
kebudayaannya.
6) Dalam
kaitan
dengan
pluralitas
budaya
dan
tradisi
lokal,
dakwah
kultural
Muhammadiyah
memberikan
sikap
ko-
eksistensi
dan
pro-
eksistensi dalam rangka
tabsyiriyah,20 sampai pada
saatnya
nanti,
Muhammadiyah
akan
melakukan islah dan tajdid,
sehingga seni dan budaya
lokal
yang
tidak
bertentangan
dengan
aqidah, syari’ah, dan akhlak
Islam dapat dipertahankan
dengan memberikan isi dan
pesan-pesan keislaman. Di
samping
itu,
dakwah
kultural
Muhammadiyah
juga melakukan kreasi baru
dengan menawarkan kultur
alternatif yang merupakan
ekspresi dari pengahayatan
ajaran
Islam,
serta
membersihkan segala unsur
budaya yang mengandung
nilai-nilai syirik, tahayyul,
bid’ah, dan khurafat.21
Apresiasi
Pluralitas
Budaya
dalam Muhammadiyah
Memadukan
Purifikasi
dan
Dinamisasi
Dari beberapa pembahasan
yang telah lalu telah ditemukan
bahwa
Muhammadiyah
telah
memposisikan diri sebagai gerakan
moderat,
dalam
arti
ketika
20″Rumusan Hasil Halaqah Tarjih
Muhammadiyah” dalam Zakiyuddin
Baidhawy dan Mutohharun Jinan (ed.),
Agama dan Pluralitas Budaya Lokal, (Solo:
PSBPS-UMS, 2002), hlm. 258;
21PP Muhammadiyah. Dakwah Kultural
Muhammadiyah. (Yogyakarta: Suara
Muhammadiyah, 2004), hlm. 12-18;
13
2
Muhammadiyah dalam masalah
aqidah dan ibadah lebih merujuk
kepada paham Salafi, yang sangat
puritan, tetapi pada saat yang
Muhammadiyah
senantiasa
berusaha melibatkan kemampuan
rasional-intelektual untuk mengkaji
masalah-masalah ijtihadiyah yang
terus berkembang. Inilah yang
membuat
Muhammadiyah
terhindar dari sikap ektremitas,
baik ekstrem fundamentalisme,
ekstrem
rasionalisme
maupun
ekstrem spiritualisme.
Dien
Syamsuddin,
menyebutkan
bahwa
Teologi
Muhammadiyah
adalah
teologi
pertengahan,
yang
merujuk
kepada konsep al-AqÊdah al-
WÉsiÏiyah, yang dirintis oleh Ibnu
Taimiyah. Namun posisi tengahan
ini juga diambil dari konsep al-
Quran Ummatan Wasatan.22
M.
Amin
Abdullah
menjabarkan
bahwa
posisi
tengahan teologi Muhammadiyah
diwujudkan
dengan
pemaduan
secara seimbang antara purifikasi
dan dinamisasi. Dalam konteks
pengembangan pemikiran Islam,
Amin Abdullah telah berjasa untuk
mencoba melakukan pemetaan
produk keilmuan Majelis Tarjih dan
Pengembangan Pemikiran Islam,
yang kini menjadi Majelis Tarjih
dan
Tajdid.
Implikasi
dari
pemetaan
tersebut,
adalah
pemilahan
wilayah
tuntunan
praktis beragama, yang lebih
mengacu para purifikasi, dan
wilayah wacana pemikiran Islam,
yang bersifat dinamisasi.23
22M.
Dien
Syamsuddin,
et.al.
Pemikiran
Muhammadiyah:
Respon
terhadap Liberalisasi Islam. (Surakarta:
Muhammadiyah University Press, 2005)
hlm. x-xi.
23M. Amin Abdullah. Dinamika Islam
Kultural. (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 175
Konsep Sunnah-Bidah dalam Muhammadiyah (Syamsul Hidayat)
Pemaduan wilayah purifikasi
dan dinamisasi tersebut, telah
melahirkan pandangan keagamaan
Muhammadiyah yang lebih luas,
tetapi
selalu
berpijak
pada
landasan yang kokoh yakni nilai-
nilai al-Quran dan al-Sunnah.
Dengan
teologi
ini,
telah
memungkinkan
Muhammadiyah
untuk
melakukan
pembinaan
keagamaan,
dengan
tegaknya
praktek
keagamaan
yang
bersumber
pada
norma-norma
ajaran Islam secara murni, bersih
dari takhayul, bid’ah dan khurafat,
dengan pemahaman yang tepat,
dan tidak membuat masyarakat
tidak
tercerabut
dari
akar
budayanya yang makruf.
Dengan
teologi
ini
juga
memungkinkan
Muhammadiyah
untuk
mendorong
dinamika
pemikiran
keagamaan
untuk
menyelesaikan masalah-masalah
kemanusiaan kontemporer yang
semakin kompleks. Pada wilayah
ini,
diprogramkan
untuk
melakukan
rekonstruksi
dan
reinterpretasi ajaran Islam. Hal ini
disebabkan nas-nas keagamaan
bersifat final sedangkan realitas
terus berkembang dan berubah.
(al-NuÎūÎ
al-DÊniyyah
mutanÉhiyyah
wa
al-waqÉÒiÑ
ghairu mutanÉhiyyah).24
Dalam bahasa Syafii Maarif,
ideologi
tajdid
Muhamamdiyah
telah
mengupayakan
pembudayaan kearifan sekaligus
ketegasan.
Ketegasan
dalam
memahami
aqidah
dan
menerapkan hukum syari’ah harus
diikuti oleh sikap arif, bijak,
sehingga
tidak
menimbulkan
permasalahan
yang
mengarah
kepada perpecahan umat. Syafii,
mengutip kisah yang pernah
24 Ibid., hlm. 178
dikemukakan
oleh
Hamka,
bagaimana sikap KH. Mas Mansur
selaku
Ketua
Majelis
Tarjih
Muhamamdiyah
dalam
menghadapi tokoh masyarakat
yang sangat berpengaruh, Haji
Rasul (Dr. Syaikh Abdul Karim
Amrullah),
ayahanda
Hamka.
Dalam banyak hal Haji Rasul
menjadi pembela Muhammadiyah,
meskipun
dia
belum
pernah
menjadi anggota. Tetapi adalah
suatu masalah kecil yang berbeda
pendapat dengan Muhammadiyah,
yaitu
ketika
Konggres
Muhammadiyah
di
Bukittinggi
1930 akan menampilkan Dai Cilik
perempuan bernama Siti Rasyidah.
Haji Rasul menentangnya, karena
baginya perempuan tampil di
depan umum adalah haram. KH.
Mas Mansur, melihat dengan
cermat
masalah
ini,
beliau
menuruti kemauan Haji Rasul.
Namun Man Mansur mengajak
diskusi dengan Haji Rasul tentang
dalil keharaman perempuan tampil
di depan umum. Haji Rasul tidak
dapat menunjukkan dalil, sehingga
hukum yang ada sebenarnya
bersifat ijtihadi. Agaknya, Haji
Rasul sangat terpukau dengan
hujjah-hujjah yang disampaikan
Mas Mansur, namun lebih terpukau
lagi dimana dengan kearifannya,
acara tersebut dibatalkan, padahal
secara prinsip Man Mansur sudah
dalam posisi menang. Akhirnya
Haji Rasul semakin giat upayanya
untuk membela Muhammadiyah.25
Pilihan pada teologi tengahan
yang sering dikenal dengan teologi
atau ideologi tajdid ini, telah
memungkinkan
Muhammadiyah
dapat
diterima
oleh
banyak
25
A.
Syafii
Maarif.
Petabumi
Intelektualisme
Islam
di
Indonesia.
(Bandung: Mizan, 1993), hlm. 229-231
13
3
PROFETIKA, Jurnal Studi Islam, Vol 8 No. 2, Juli –Desember 2006: 125-136
kalangan,
dan
menjadikan
Muhammadiyah terus berkembang
dan disegani baik oleh kawan
maupun lawan. Bahkan hampir-
hampir
Muhammadiyah
tidak
mempunyai
lawan.
Nakamura,
setekah
menggeluti
Muhammadiyah
di
Kotagede
dengan jujur menyatakan:
Muhammadiyah
adalah
gerakan dengan banyak wajah.
Dari jauh nampak doktriner. Tetapi
setelah dari dekat, kita menyadari
bahwa ternyata ada sistemisasi
teologis. Apa yang ada di sana
agaknya
merupakan
suatu
susunan ajaran moral yang diambil
langsung dari Al-Quran dan Hadits,
nampak eksklusif bila dipandang
dari luar, tetapi sesungguhnya
sangat terbuka bila berada di
dalamnya. Secara organisatoris
nampak membebani, akan tetapi
sebenarnya
Muhammadiyah
merupakan suatu kumpulan yang
sangat menghargai pengabdian
pribadi.
Nampak
sebagai
organisasi yang sangat disiplin,
akan tetapi sebenarnya tidak ada
alat pendisiplinan yang efektif,
selain kesadaran masing-masing.
Nama agresif dan fanatic, tetapi
sesungguhnya cara penyiarannya
perlahan-lahan dan toleran. Dan
akhirnya tetapi barangkali paling
penting, nampak anti-Jawa, akan
tetapi sebenarnya dalam banyak
hal mewujudkan sifat baik orang
Jawa.26
Namun,
dengan
teologi
tengahan, tetap saja mengandung
26 Mitsuo Nakamura., The Crescent
Arise over the Banyan Tree: A Study of the
Muhammadiyah Movement in a Central Java
Town (Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon
Beringin: Studi tentang Pergerakan
Muhammadiyah di Kotagede Yogyakarta).
Terj. Yurson Asrofi, (Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 1983), hlm. 226
13
4
kelemahan.
Di
antaranya
keragaman dan wajah ganda (dzu
wujuh) yang menjadi kekayaan
Muhammadiyah,
seringkali
diwarnai dinamika dan konflik,
karena beberapa kecenderungan
yang ada di dalamnya saling
berbenturan.
Ketika
warna
purifikasi
terasa
mendominasi
pemikiran
dan
gerakan
Muhammmadiyah,
maka “sayap
modernis” akan merasa gerah
berada
dalam
rumah
Muhammadiyah,
begitu
pula
sebaliknya,
apabila
dinamika
liberalisasi
pemikiran
Islam
mewarnai Muhammadiyah, maka
sayap puritan akan merasa gusar.
Di
sini
memang
diperlukan
ketahanan diri serta sikap yang
lapang dan tasamuh yang tinggi
menghadapi dinamika pluralitas
internal Muhammadiyah.
Tajdid
Muhammadiyah:
Apresiasi terhadap Pluralitas
Budaya
Muktamar
Tarjih
Muhammadiyah XXII, 1989 telah
menetapkan
dimensi-dimensi
tajdid dalam Muhammadiyah yang
meliputi: (1). Pemurnian aqidah
dan ibadah, serta pembentukan
akhlak
mulia
(al-akhlak
al-
karimah). (2). Pembangunan sikap
hidup dinamis, kreatif, progressif,
dan berwawasan masa depan. (3)
Pengembangan
kepemimpinan
organisasi, dan etos kerja dalam
Pesyarikatan Muhammadiyah.
Ideologi
Tajdid
Muhammadiyah terus mengalami
penyempurnaan,
seiring
perkembangan
kemajuan
masyarakat.
Penyempurnaan
ideologi atau teologi tajdid ini
dilakukan
dengan
melakukan
rekonstruksi manhaj tarjih dan
Konsep Sunnah-Bidah dalam Muhammadiyah (Syamsul Hidayat)
penyusunan
konsep
dakwah
kultural Muhammadiyah.27
Dengan
rekonstruksi
Manhaj Tarjih dan Pengembangan
Pemikiran Islam, Muhammadiyah
mencoba melakukan penelaahan
ulang,
disamping
penajaman
wilayah
purifikasi,
dengan
melakukan proses penjernihan,
reedukasi dan pendewasaan cara
pikir. Dengan demikian purifikasi
tidak bisa terlepas dari dinamisasi.
Dengan pengembangan tersebut,
purifikasi tetap memberikan ruang
untuk
mengapresiasi
pluralitas
budaya. Bahkan potensi budaya
masyarakat dapat menjadi sarana
dan saluran untuk mendakwahkan
nilai-nilai Islam. Rekonstruksi dan
reinterpretasi ajaran Islam akan
selalu
melibatkan
dan
mendialogkan the basic prinsiple
of ethical values dan qāidah al-
uÎuliyyah al-bayāniyyah.28 Dengan
pola
pemahaman
yang
proporsional akan memungkinkan
Muhammadiyah
untuk
mengukuhkan identitas dirinya,
tetapi sekaligus memberikan sikap
empati dan apresiatif terhadap
pluralitas, selama tetap dalam
koridor ajaran Islam dan menjaga
martabat kemanusiaan.
Dalam
konteks
ini,
Muhammadiyah
memberikan
rambu-rambu,
sebagaimana
27Perumusan penyempurnaan Manhaj
Tarjih dilakukan melalui berbagai forum,
seperti Seminar Pengembangan Pemikiran
Islam: Antara Purifikasi dan Dinamisasi, 22-
23 Juni 1996 di UMY, Munas Tarjih XXIV di
Malang, 29-31 Januari 2000, Semiloka
Manhaj tarjih dan Ijtihad ala Majelis Tarjih,
tanggal 1-2 April 2000, dan Munas Tarjih
XXV, Juli 2000 di Jakarta. Adapun konsep
dakwah kultural dikaji oleh dua Sidang
Tanwir di Bali, Januari 2002 dan Sidang
Tanwir Makasar, Juni 2003.
28 M. Amin Abdullah. Dinamika Islam
Kultural, hlm. 166-167
dituangkan dalam Pedoman Hidup
Islami yang diputuskan dalam
Muktamar Muhammadiyah ke 44,
2000 di Jakarta. Hukum dasar
berkebudayaan adalah mubah,
selama tidak mengarah kepada
kerusakan (fasād), bahaya (Ìarar),
durhaka (‘iÎyān) dan jauh dari Allah
(ba‘īd ‘anillah). Oleh karena itu
kreativitas budaya di lingkungan
Muhammadiyah
harus
sejalan
dengan etika dan norma-norma
Islam sebagaimana dituntunkan
oleh
Majelis
Tarjih,
yakni
aktualisasi kebudayaan yang dapat
menjadi
sarana
pendidikan,
dakwah serta mendekatkan diri
kepada Allah merupakan amal
shalih yang harus dikembangkan.29
Selanjutnya,
dengan
penyusunan
Strategi
Dakwah
Kultural, sebagai pengejawantahan
manhaj pemikiran Islam dalam
langkah
dan
gerak
dakwah,
Muhammadiyah
melakukan
intensifikasi
dan
ekstensifikasi
dakwah
sekaligus.
Intensifikasi
dakwah
dilakukan
dengan
mendalami
subtansi
nilai-nilai
keislaman yang menjadi sumber
dan landasan dakwah. Dengan
pemahaman yang mendalam atas
substansi dan esensi dakwah, akan
melahirkan sikap yang lapang
dada dan toleran pada setiap
pelaksana dakwah, karena semua
masyarakat
sasaran
dakwah
adalah manusia yang memiliki
potensi
dan
berhak
atas
penghormatan atas eksistensinya.
Sehingga dakwah Islam, yang
membawa missi amar makruf nahi
munkar, akan selalu menghormati
martabat
manusia
dan
29PP Muhammadiyah, Pedoman Hidup
Islami warga Muhammadiyah, (Yogyakarta:
Suara Muhammadiyah, 2003), hlm. 42-43
13
5
PROFETIKA, Jurnal Studi Islam, Vol 8 No. 2, Juli –Desember 2006: 125-136
memanusiakan manusia.30
Implikasi dari intensifikasi di
atas
adalah
tuntutan
untuk
melakukan ekstensifikasi dakwah,
di mana lahan, saluran dan
jaringan dakwah Muhammadiyah
menjadi
lebih
luas
dan
multidimensi,
seiring
dengan
percepatan
perkembangan
masyarakat, dan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ektensifikasi
dakwah
Muhammadiyah dapat memasuki
ranah budaya lokal, budaya global,
budaya
tradisional,
budaya
modern, dunia seni, multimedia
dan IT (information teknology) dan
model-model
pengembangan
masyarakat
(community
development)
atau
yang
di
lingkungan
Muhammadiyah
dikenal dengan Gerakan Jamaah
dan Dakwah Jamaah (GJDJ).31
Penutup
Dari pembahasan di atas
dapat diambil beberapa simpulan,
sebagai berikut : pertama, Sunnah
dan Bid’ah merupakan salah satu
kata
kunci
dalam
gerakan
pemurnian
Islam,
seperti
Muhamamdiyah. Istilah tersebut
sangat diperlukan sebagai prasarat
untuk pemeliharaan ajaran Islam
untuk
memperoleh
kemurniaannya.
Kedua,
dimensi
pembaharuan
Muhammadiyah,
yang mendorong umat untuk
bangkit membangun peradaban
Islam di tengah-tengah perubahan
masyarakat
yang
semakin
kompleks telah membawa proses
kreatif
Muhammadiyah
dalam
memahami agama dan budaya,
30
PP
Muhammadiyah.
Dakwah
Kultural Muhammadiyah., hlm. 19-27
31 Ibid., hlm. 33, 41, 67, 99.
13
6
sehingga
gerakan
pemurnian
Muhammadiyah
tetap
tegak
meskipun
memiliki
beberapa
kelenturan metodologis.
Ketiga, dengan keterbukaan
dan kelenturan metodologis, di
samping
konsistensinya,
Muhammadiyah
memandang
pluralitas budaya, sebagai suatu
keniscayaan, bahkan sunnatullah.
Namun, karena kebudayaan dan
peradaban
adalah
merupakan
ekspresi rasa, karsa, karya dan
cipta dari manusia yang memiliki
keyakinan,
kepercayaan
dan
agama, maka dalam pandangan
Muhammadiyah,
agama
dan
budaya merupakan dua sisi yang
berbeda tetapi tetap menyatu,
bahkan agama harus menjadi
inspirator dari lahir dan hidupnya
budaya dan kebudayaan. Oleh
karena
itu
adanya
pluralitas
budaya tetap ada standar nilai
yang harus melekat padanya,
sehingga ada kategori al-ma’rufat
(budaya positif, diakui kebaikannya
oleh
agama
dan
fitrah
kemanusiaan), dan ada kategori
al-munkarat (budaya negatif, yang
diakui bahaya dan keburukannya
oleh
agama
dan
naluri
kemanusiaan).
Dengan
begitu,
interaksi Muhammadiyah dengan
pluralitas
budaya
telah
mendorongnya
untuk
memacu
kreativitas dalam berkiprah dan
mendakwah Islam, dengan strategi
koeksistensi, bahkan proeksistensi
dalam rangka menegakkan dan
menguatkan nilai-nilai al-ma’rufat
dan mengeliminir nilai-nilai al-
munkarat di tengah pluralitas
tersebut. Wallahu a’lam.
Daftar Kepustakaan
Abu Ishaq Ibrahim bin Musa al-
Konsep Sunnah-Bidah dalam Muhammadiyah (Syamsul Hidayat)
Shatibi. Al-I’tisham. Riyad: Dar
a-Hijrah, 2001
Ali bin Muhammad bin Nasir al-
Fiqhy. Al-Bid’ah Dawabituha
wa Atharuha al-Sayyi’ fi al-
Ummah, Madinah:Universitas
Islam Madinah, t.th.
Asymuni Abdurrahman. Memahami
Makna Tekstual, Kontekstual
& Liberal. Yogyakarta: Suara
Muhammadiyah, t.th.
A.
Syafii
Maarif.
Petabumi
Intelektualisme
Islam
di
Indonesia. Bandung: Mizan,
1993
Djarnawi Hadikusuma.
Ahlussunnah wal Jamaah,
Bidah dan Khurafat.
Yogyakarta: PP
Muhammadiyah, 1995
Keputusan
Muktamar
Tarjih
Muhammadiyah XXII, 1989 di
Malang,
bidang
ibadah
khusus, kajian masalah Qunut
Witir, Shalat Id pada hari
Jumat, dan Azan Subuh.
Luis al-Ma’luf. Al-Munjid fi al-
Lughah wa al-A’lam. Beirut:
Dar al-Mashriq, 1986
Mas Mansoer. Tafsir Langkah
Muhammadiyah
1938-1940,
Yogyakarta:
PP
Muhammadiyah
Majelis
Tabligh, t.th
“Matan Keyakinan dan Cita-cita
Hidup Muhammadiyah” dalam
Hamdan Hambali, Ideologi
dan Strategi Muhammadiyah.
Yogyakarta:
Suara
Muhammadiyah, 2006
Mitsuo Nakamura., The Crescent
Arise over the Banyan Tree: A
Study of the Muhammadiyah
Movement in a Central Java
Town (Bulan Sabit Muncul dari
Balik Pohon Beringin: Studi
tentang Pergerakan
Muhammadiyah di Kotagede
Yogyakarta). Terj. Yurson
Asrofi, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 1983
Muhamamd Ajjaj Khatib. Ushul al-
Hadith ÑUlumuh wa
Mustalahuh, Dimashq: Dar al-
Fikr, 1975.
Muqaddimah AD Muhammadiyah
Yogyakarta:
Suara
Muhammadiyah, 2005
M. Amin Abdullah. Dinamika Islam
Kultural.
Bandung:
Mizan,
2000 Ibid., hlm. 178
M. Dien Syamsuddin, et.al.
Pemikiran Muhammadiyah:
Respon terhadap Liberalisasi
Islam. Surakarta:
Muhammadiyah University
Press, 2005
PP Muhammadiyah. Dakwah
Kultural Muhammadiyah.
Yogyakarta: Suara
Muhammadiyah, 2004
PP Muhammadiyah,
Pedoman
Hidup
Islami
warga
Muhammadiyah, (Yogyakarta:
Suara Muhammadiyah, 2003),
hlm. 42-43
Sudjarwanto
et.el
(ed.)
Muhammadiyah
dan
Tantangan
Masa
Depan.
(Yogyakarta: Tiara Wacana,
1990), hlm. 407-418
Sunan Abu Dawud, Juz. 13,
(Program Maktabah Shamilah)
Sunan At-Tirmidzi, Juz 9, (Program
Maktabah Shamilah)
Teungku Muhammad Hasbi Ash
Shiddieqy. Kriteria Sunnah
Bid’ah. Semarang: Pustaka
Rizki Putra, 2005
Zakiyuddin B. Dan Mutohharun
Jinan, (ed.), Agama dan
13
7
PROFETIKA, Jurnal Studi Islam, Vol 8 No. 2, Juli –Desember 2006: 125-136
Pluralitas Budaya Lokal, Solo:
13
8
PSBPS-UMS, 2002
Konsep Sunnah-Bidah dalam Muhammadiyah (Syamsul Hidayat)
12
5

About irfanansori

you and me always be champion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s