BELAJAR ANTI KORUPSI DI PESANTREN
BY :
IRFAN ANSORI
SANTRI PONDOK HAJJAH NURIAH SHABRAN
Siang itu begitu terik tak seperti hari kemarin, aku berlari menuju gedung putih dengan tanda ‘plus’ berwarna hijau. Dengan pakaianku yang nyentrik seperti ustadz Jefry Al-Bukhori dan songkok di kepalaku yang berwarna hitam melekat. Udara panas dan berdebu itu membuatku terbatuk kala menyebrang di tikungan maut. Namun aku tak perduli seberapa banyak debu kotor terhirup paru-paruku, seberapa mampu kakiku bertahan di atas aspal yang nyaris membakarku. Karena yang aku pikirkan hanya satu, yaitu bagaimana caranya aku sampai ke sana secepat mungkin. Daun yang tertiup angin membisikkan semangat agar aku tak berhenti berlari. Maka aku terus berlari.
Aku menemui seorang wanita berbaju hijau yang mirip dengan jas hujan, lengkap dengan penutup kepala yang aku anggap topi dan berwarna hijau juga. Namun tidak dengan baju bagian depannya yang ada bercak merah, menandakan ia baru selesai menangani pasien kecelakaan atau operasi. Aku melirik ke dalam mata teduhnya yang terlihat penuh kasih sayang, lalu beliau pun menggeleng lemah. Aku meraung, berteriak, menangis tapi aku nyaris tak dapat mendengar suaraku sendiri. Tangisku redam dalam kelengangan.
Aku pulang dengan membawa rasa yang tak karuan. Karena setelah itu entah apa yang akan aku lakukan bersama hidup yang nyaris menggerogotiku dengan waktu yang amat panjang ini. Aku meneguk air putih yang entah sejak kapan berada di atas meja asramaku. Tak perduli seberapa kecut rasanya, karena yang aku tahu bahwa hidup ini pahit. Di samping gelas itu tergeletak dengan santai sebuah pisau dan terlihat bekas kupasan buah mangga di pinggirnya. Hal itu cukup membuatku tertarik untuk memainkannya di atas pergelangan tanganku yang mungil. Nyaris aku melakukan hal yang sebenarnya gila apabila dipikir dengan otak logis. Sepertinya aku tergoda untuk mempraktekkan adegan dalam sebuah film yang ditayangkan oleh beberapa pemuda di warung Pak Ibrahim seminggu yang lalu. Untung saja aku tersadar oleh santri yang lain yang sedang berjalan menuju kamar sehabis belajar di kelas.

Kuputuskan untuk pergi ke tempat yangh lebih sepi, yakni gudang tempat penyimpanan alat alat inventaris pondok. Imajinasiku melayang menyentuh cermin yang memantulkan bayangan tak karuan, tapi bayangan itu menampakkan sebuah amarah yang terendam. Bayangan itu menggenggam tetap pisau runcing di tangan kanan dan diam tak berkutik hingga beberapa menit,lalu ia pun menangis sejadinya. Tentu saja bayangan itu adalah aku. Aku yang tak lagi memiliki pegangan saat aku tertatih menahan beratnya takdir, aku tak lagi memiliki sandaran saat aku mulai letih berjalan di atas waktu yang entah sampai kapan akan terus menggerogoti, kini aku tak memiliki sandaran rindu dan kasih sayang.
Ku menggeleng keras menerima kenyataan ini, “apakah aku mampu bertahan sepeninggal ibu”, aku meyakinkan dalam hati. Ketahuilah, bahwa aku telah menyerap sari-sari kehidupan yang mencekam melalui plasenta yang terhubung antara tubuh ibu dan tubuhku. Karena aku pun terlahir bukan dari rahim wanita lemah, aku tidak belajar merangkak di atas karpet mahal atau belajar berdiri di atas keramik marmer mewah, aku belajar beradaptasi di atas duri hidup yang tak pernah terbayangkan olehku sejak dalam kandungan ibu yang hangat. Maka tak ada kesempatan bagiku untuk mengeluh.
Pondok Pesantren adalah satu-satunya tempat di mana aku punya kehidupan yang masih dianggap layak. Dan aku memiliki posisi yang tak sebenarnya aku harapkan di pondok. Aku menjadi bendahara umum di pondok pesantren yang kebetulan pesantrenku ini berbasis modern, jadi selain aku mahir ilmu agama insya allah juga mahir dalam ilmu umum. Aku sangat menikmati posisi itu, karena aku bisa memegang banyak kertas yang mereka sebut itu uang. Uang kas hasil penarikan dari orang yang berbagai macam wajah daerah dan watak yang berbeda. Dan tentu saja aku berada di kasta sudra, meski teman-temanku tak ada yang mengetahuinya. Karena yang mereka tahu, aku hidup normal dengan keadaan yang berkecukupan karena di dunia ini masih bertahta teori ‘cara berpakaian mencerminkan materi seseorang’. Sebenarnya aku tidak terlalu perduli dengan adanya teori seperti itu, meski secara tidak langsung aku tertolong. Anggap saja itu menjadi tameng, toh aku tak pernah mendengar lolongan dari mulut teman-temanku, sebusuk apapun itu. Ya, aku sudah diajarkan seperti itu oleh ibu sejak aku balita.
Aku tak ingin menangis pada keadaan, tak ingin kalah oleh penderitaan, aku pun tak ingin melawan takdir. Tapi aku berjuang untuk hidup yang masihku pertahankan demi cita-cita yang aku inginkan. Ya, aku punya cita-cita seperti halnya anak-anak yang lain. Bagiku, cita-citaku ini sangat mulia seperti layaknya Superman dan Batman. Bedanya, jika mereka melawan musuh yang berwajah monster. Tapi aku akan melawan makhluk yang berhati dan berakal monster yakni para koruptor. Seburuk apapun kehidupanku, aku masih memiliki hati nurani seperti apa yang diharapkan oleh mendiang ayahku yang gagah.
Hari ini pada jam pelajaran pertama aku mengantuk dan tanpa terasa aku tertidur. Dalam tidurku, aku bermimpi bahwa aku berada di sebuah istana yang mewah dan indah.
Aku pun terhipnotis oleh keadaan dengan setiap bayang kemewahan yang alami dalam mimpiku itu. Aku bergegas mengambil kantung kresek yang telah aku namai bagian luarnya dengan tulisan ‘UANG KAS’. Dengan perbuatan itu terkadang aku bisa makan dengan ayam goreng.Tanpa ragu lagi aku mengambil beberapa lembar uang di dalamnya. Ini tidak seberapa, pikirku. Hari itu, untuk pertama kalinya aku mengambil uang kas.
Lambat laun, aku semakin gemar untuk mengambil beberapa uang dari dalam kresek itu, bahkan aku membeli baju baju masa kini Dan kini kantong itu kosong melompong tanpa berat dan isi. Aku kelimpungan, bingung harus menjawab apa seandainya aku ditanya oleh bu guru besok di sekolah.
“Indri, ada berapa jumlah uang kas kelas kita?” Bu Nina bertanya padaku suatu hari.
Aku hanya menunduk dan diam. “Anu bu ..”
“Ada apa? Andi sakit, dan kita akan menggunakan uang kas untuk menjenguk Andi.”
“U…uang ka…kasnya hila..ng bu. Kemarin saya kena copet”, Aku tergagap dan berharap bu Nina akan percaya. Dan bu Nina memang percaya dengan wajah polosku, lalu beliau pun mengganti semua uang kasnya.
Sepulang sekolah, aku terkejut karena gubuk jelekku ramai. Ada sesuatu hal yang tak beres. Aku melongok ke dalam, Beti sedang dikerumuni oleh orang-orang. Bukan karena sakit atau pingsan. Tapi ia mati tertabrak puso dan jasadnya telah tertutup kain putih. Aku terhenyak, sahabat sekaligus saudara angkatku satu-satunya pun hilang. Aku mulai berpikir dan enggan lagi untuk mengambil uang yang bukan menjadi milikku. Karena Beti mati setelah ia mencopet.

About irfanansori

you and me always be champion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s